
Lelaki itu mencoba tuk melangkah. Dengan beban yang ada di pundaknya. Bajunya telah tercabik-cabik oleh guratan batu gunung yang di laluinya…dalam perjalanan hidup. Hanya matanya yang selalu tengadah…bersinar penuh harap akan sesuatu yang masih di yakininya…setidaknya selama 27 tahun umurnya… Kakinya yang berdarah, nampak lemah menapaki kerikil tajam.
Tapi, pandangannya tetap tengadah…mencari apa yang dicarinya sepanjang hidup. Jiwa-jiwa yang kesepian berteriak nyaring memanggilnya tuk bergabung, dari arah bawah lembah. Namun, dia tulikan telinganya agar tak mendengar panggilan itu. Dia kuatkan hatinya tuk menempa semangat dan jiwa yang mulai meragu. Beban di pundaknya tak juga berkurang beratnya, malah bertambah berat dengan harapan-harapan orang-orang yang berada di dekatnya.
Peluh mulai membasahi wajahnya yang kusam dan kotor. Hanya wajah lusuh itu yang menemaninya selama hidup….dalam menantang dinginnya angin gunung dan teriknya matahari. Tapi, dia tetap tengadah…mencari apa yang di carinya selama hidup…. Perjalanannya hampir mencapai pagi…saat fajar menjelang. Tubuhnya membatu..dengan mata yang lelah menatap ke depan.
Di sana….di puncak gunung kehidupan yang di daki, perlahan membayang suatu sosok tubuh penuh cahaya…penuh harapan… Lelaki itu tersenyum…dalam meyakini apa yang di carinya. Cahaya dari sosok tubuh itu menyilaukan, namun tidak menyakitkan mata. Kelembutan dan keharuman sosok tubuh itu, mampu memberi tenaga baru bagi si Lelaki, dalam meneruskan langkah kakinya yang berdarah, untuk tetap mendaki gunung itu.
Tiba-tiba, Sang Lelaki sejenak menghindar, dan berlari berlindung di bawah tumpukan batu keraguan. Entah dari mana, mendadak tubuhnya menggigil karena terpaan keputus asaan yang mendalam. “Benarkah dia ? Ataukah aku harus terus menyakiti hidupku dengan pencarian tanpa ujung ini ?” Begitu yang ada di dalam benak si lelaki, saat dia berhenti melangkah tuk menimbang hendak melangkah maju atau tidak. Lalu bagaimana dengan semua beban yang di bawanya ? Bagaimana dengan semua harapan yang membebaninya ? Apakah pantas tuk tetap di bawanya dalam menuai mimpi ?
Lelaki tersebut terduduk lemas….seraya mengangkat tangannya, berdo’a : “Yaa Tuhan…apakah ini jawab-Mu….ataukah ini azab-Mu ?” Saat Sang Lelaki bersembunyi di balik semua keraguannya, sosok tubuh penuh cahaya itu mendekat, membuat sang lelaki terlempar dalam suasana nyaman yang belum pernah di impikan sebelumnya.
Tangan lembut dari sosok tubuh penuh cahaya itu menggenggam telapak tangan Sang Lelaki, merangkulnya dengan kehangatan surgawi, dan mengajak tuk beranjak pergi. Sang lelaki tak bisa berkata apa-apa….tak bisa berbuat apa-apa…hanya mengikuti saja kemana sosok tubuh penuh cahaya itu melangkah…atau tepatnya melayang. Bahkan Sang Lelaki tak bisa merasakan lagi beban dan luka yang seumur hidupnya telah dia bawa….Yang ada hanya kesejukan, perasaan nyaman yang selalu dia impikan….dan jalan penuh cahaya yang dilaluinya bersama dengan sosok tubuh penuh cahaya itu…
Sosok tubuh penuh cahaya itu memiliki sayap….dan lingkaran putih di atas kepalanya. Sayap yang mengepak lembut…dan lingkaran putih di atas kepalanya mampu memancarkan jutaan warna cerah dari kehidupan. Dan Sang Lelaki hanya terpana…tak kuasa berkata apa…selain mengatur degup jantung yang makin rejana… Ini kah wujud mimpinya ? Ini kah akhir pencariannya ? Sang lelaki tak berani untuk memutuskan. Terlalu rumit untuk di anggap sederhana. Lanjut Baca »