Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Yang KAU Mau

“Siapakah kamu ?”…. “Saya adalah EP”

“Siapakah kamu yang bukan EP”…”Saya adalah seorang anggota BarCode”..

“Siapakah kamu yang selain EP dan anggota BarCode ?”…”Saya adalah anak dari orang tua saya…suami dari istri saya…seorang anggota masyarakat..seorang karyawan di perusahaan tempat saya bekerja..seorang sahabat bagi teman saya…dsb…dsb..”

“Hmm…lalu..siapakah kamu selain semua itu ?” Aku terdiam….

Ya Allah…

Aku tahu bahwa selama ini aku tidak bisa menjalankan kehidupanku seperti yang KAU mau, tuk bisa KAU pilih menjadi hamba-MU.

Tapi..Ya Rabb…

Aku ingin menjadi seperti yang KAU mau..agar bisa KAU pilih aku tuk pantas bersujud kepada-MU…

Wahai Yang Maha Mulia..

Maka ijinkanlah aku ‘menyelami’ cahaya-MU (mengenali-MU-> sebuah ungkapan makrifatullah ), tuk menunjukkan semua rasa dan kesungguhanku atas ke-ESA-an MU.

Wahai Yang Maha Sempurna…

Aku tahu aku bukanlah YANG SEMPURNA…( selayaknya KAU ciptakan Nur Muhammad S.A.W sebagai rahmat bagi alam semesta), yang bisa sekejap dapat ‘meraih’ ridho-MU…

Tapi…aku mohon…sudilah ENGKAU tuk tetap ada ‘menemani’ langkahku…menganugerahkan cinta-MU atas setiap detak jantungku…sampai ku temukan jawaban atas semua ‘Kemuliaan-MU’ terhadap hidupku…

Namun apabila memang nanti ternyata ENGKAU menggariskan bahwa umurku tak sampai ke tujuanku….belum sampai menjadi seorang hamba seperti yang KAU mau…maka…

“Demi NAMA yang semua bersujud kepada-NYA…demi CAHAYA yang semua mahluk berdzikir kepada-NYA…dan demi DZAT yang mana semua ciptaan menyembah-NYA… tak kan pernah ku sesali… karena setidaknya aku telah memulai langkahku untuk ‘mencoba’ mengenal-MU, berlari menuju arah-MU, sampai batas akhir waktuku…

“Yang KAU Mau” Song fundamental…

L.I.A

Nama Gue “LIA” katanya sambil menjabat tanganku seraya tersenyum manis…

Hhhuuuaaaahhh… sudah 3 jam lebih sejak aku berbaring diatas tempat tidur ini sambil melirik ke arah jam dinding, pikiranku jauh melayang ke awang-awang mengingat kembali pertemuan yang terjadi tadi sore…

LIA… LIA… LIA… berulang kali nama itu terucapkan olehku… seolah-olah ia telah merasuki anganku… Engkaulah bunga sempurna getarkan hati yang lara, yang s’lalu menebarkan senyuman terindah yang merupakan sebuah anugrah semesta…

Pagi itu jam tepat menunjuk diangka 8.20 pagi… “Waduh, terlambat” ujarku sambil berlari kecil menuju lift yang kelak akan mengantarkan ke Ruangan. Tanpa diduga, saat pintu lift terbuka di lantai yang tertuju… aku melihat sebuah senyuman khas yang selalu terbayang tiap saat terutama tadi malam (penyebab yang membuatku bangun kesiangan) menyambutku melangkah keluar lift… “Hai baru datang ya…?” sapanya.

Wooii… Kalo Kau ngantuk sana keluar dulu dari ruangan meting ini, cuci muka… “sergah boss ku dengan nada lantang memecah lamunanku di tengah perang Baratayudha yang sedang terjadi. “Sorry boss, Kurang istirahat nih… soalnya lagi gak enak badan” kilahku berkelit. Lagi senyuman manis tadi masih membayangi sehingga membuat ku terlena saat ini…

Perlahan senja mulai menutupi garangnya terik sang surya menyinari bumi… “It’s time to go home” ujarku dalam hati. Sesampai di lobby mata ku tertuju para kumbang-kumbang perayu sedang tebarkan pesona di sekeliling sang gadis pujaan hati tuk mencuri hatinya… “Sial” umpatku sambil menghindar agar tak terlihat… Ah… seandainya ia berpaling kepadaku saat ini tentu akan semakin bewarna hidup ini…

Hari terus berganti seiring bergulirnya waktu, jiwa ini mulai gelisah karena sang pujaan hati belum juga memberikan sedikit waktu tuk merajam hangatnya cinta bersama… LIA… cobalah kau mengerti mungkin saja diriku adalah yang terbaik, beri ku kesempatan untuk memulainya… Mungkin ku tak bernyali tuk nyatakan rasa cintaku, tapi ku bahagia bila kau tertawa….Ohh… LIA… LIA… LIA… LLLIIIIAAAAAA…..

Based on LIA Lyrics…

BarCodE

Image source : flikcr

RUNAWAY!!!

Coz we’re in the runaway…leaving all the dreams behind..On our stupid plane…flying like a hurricane…Coz we’re in the runaway…tried to make a different style…turn the world a smile…a better place to shine…

Ada sepenggal rasa lega, setelah gw tuntasin menulis lirik lagu ini. Sejak pertama denger embryo-nya dari si Ryan BEX, nggak tau kenapa pikiran gw langsung terlempar ke tengah temen-temen gw di gudang Sunter, yang kerja di produksi. Ngebayangin saat itu mereka pasti lagi tidur pulas, nyiapin tenaga buat besok kerja keras lagi.

Runaway…sebuah kata yang sarat makna. Seperti sebuah pedang tajam, yang bisa berguna atau malah membunuh. Tergantung si pemegangnya mau digunakan untuk apa. Begitu juga dengan Runaway…bisa jadi satu langkah untuk pelarian…atau malah satu semangat baru untuk berkembang, menghancurkan batas ketidak percayaan diri untuk mengejar mimpi.

Anak-anak gudang Sunter butuh sesuatu untuk Runaway. Tapi, lebih dari itu, mereka jauh lebih butuh mental Runaway untuk bisa survive. Kondisi kerjaan yang nggak bisa dipastikan lanjut atau tidak, pendapatan yang cuma sekedar cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari (ada juga sih beberapa yang cukup smart untuk bisa nabung..hehehe…), membuat mereka harus tetap menjada mental Runaway mereka setiap detik, di setiap helaan nafas pada saat mereka mengerjakan pekerjaan kasar mereka.

Runaway….kayaknya gw juga butuh Runaway…dengan kondisi yang mungkin beda banget sama apa yang dihadapin temen-temen gw di Gudang Sunter. Politik kantor, taktik licik, dan seabrek kebusukan lainnya yang masih mungkin bisa di temukan di kantor pusat pada umumnya. Runaway…yaa….Runaway…tapi mo kemana ?

Mungkin, untuk hal satu ini, gw harus belajar sama temen-temen gw di Gudang Sunter, gimana cara merubah ‘kebutuhan’ Runaway menjadi sebuah mentalitas dan semangat hidup, seperti yang sudah mereka miliki sekarang.

Hidup nggak pernah datar (kecuali kalo kita pingsan or tidur). Dan gw kayaknya malah mencoba bersembunyi di balik Runaway, untuk semua tantangan hidup yang gw hadapin di sini…di kantor pusat. Tapi buat temen-temen gw di Gudang Sunter…para pekerja produksi itu… mereka malah masih bisa senyum tiap kali harus ngerjain kerjaan-kerjaan yang sangat-sangat menmbosankan, di atas dasar mental Runaway mereka yang tinggi. Lanjut Baca »

Payung

Guys…ada sesuatu yang cukup menggelikan tentang sebuah payung. Coba nih ya :

1. Bila sedang bersamanya, hidup kayaknya jadi repot se dunia. Tapi, bila hujan, buru-buru kita membuka dia dengan kasar (kayaknya, gw belum liat ada orang yang membuka payung pas hujan dengan lemah lembut ya.. hehehe).

2. Pas dia udah susah payah ngelindungin kita dari hujan, pas masuk ruangan biasanya dia nggak pernah ounya hak untuk ikut masuk bareng kita. Biasanya sih di tinggal di luar/di lobby.

3. Kalo rusak….temen setianya adalah tukang servis payung yang kucel. (Salah satu kegiatan servis yang paling males kita tungguin di banding barang0-barang milik kita yang lain. Bahkan sepatu lebih terhormat, karena kita rela panas-panasan buat nungguin mereka di sol di pinggir jalan).

4. Kalo bisa masuk ke dalam rumah, nggak pernah berhak buat nempatin posisi yang strategis dan indah. Biasanya sih komunitasnya adalah di belakang kulkas, di tempat cuci baju, di bagasi mobil, di belakang rak sepatu.

5. Tapi, payung adalah payung…yang nggak pernah menolak untuk selalu membuka canopy-nya, walau dengan jari-jari kecil yang sudah karatan, untuk melindungi si pemilik dengan segala kemampuannya.

Meskipun dia tetap dibenci manakala sang pemilik lupa membawanya saat hujan….

Under my umbrella…hella..hellaa..hey..hey…hey..Under my Umbrella….. :)

Titik Terang

Titik Terang…yang nggak pernah berpenghuni. Ada di setiap kita. Ada di setiap keringat, darah, dan airmata. Sebuah kontribusi samar akan sebuah keinginan. Mudah tuk terlupa, namun sukar tuk terjadi.

Saat langit alam biru menunggu salju, ilalangpun bersorak manja. Mencoba semaikan segala mega. Angin menari lucu dikupingku, mencoba bicara. Heyy?? Ngomong apa sih ?? Sumpah, aku nggak ngerti.

Tapi alam sedang tersenyum manis padaku…menarikku dalam kehampaan hati yang dalam. Fenomena biru telah meninggalkanku seperti sampah yang berserakan. Saat ini, titik terang adalah jawabannya.

Sukar dicerna, seperti menelan karet mentah bulat-bulat ke dalam perut yang kosong. Makin membakar sebuah keinginan untuk bisa meraja. Aku terdiam…aku terpaku dalam hening. Aku malu pada angin yang dari tadi terus meracau, sementara mulutku terkunci rapat. Semua pohon berpelukan mentertawakanku, sampai air mata mereka menggenangi akar-akar yang lapuk. Menebarkan bau busuk yang nggak akan mungkin di sukai oleh kucing. Tapi ini aku…dan aku sedang berdiri di sini.

Mata sang batu meradang lelah di hadapanku, seolah memintaku untuk tetap bermimpi. Kisaran daun bunga telah bertumbuk menjadi satu, dalam langkahnya menuju kematian. Aku meringis….menampilkan sebuah seringai jelek yang memuakkan. Sampai kapan, ya…hidup akan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk nggak karuan, bagai rumah-rumah gembel di kolong jembatan ?

Ohhh…lelahnya kaki ini….saat mencoba mencari celah untuk tak tersengat lebah. Kalau sudah begini, kemana titik terang itu tlah pergi ? Ke dalam hati, atau malah cuma jadi bayangan mimpi ?

Atau…sebenarnya Titik Terang itu adalah aku sendiri ???

Lelaki itu mencoba tuk melangkah. Dengan beban yang ada di pundaknya. Bajunya telah tercabik-cabik oleh guratan batu gunung yang di laluinya…dalam perjalanan hidup. Hanya matanya yang selalu tengadah…bersinar penuh harap akan sesuatu yang masih di yakininya…setidaknya selama 27 tahun umurnya… Kakinya yang berdarah, nampak lemah menapaki kerikil tajam.

Tapi, pandangannya tetap tengadah…mencari apa yang dicarinya sepanjang hidup. Jiwa-jiwa yang kesepian berteriak nyaring memanggilnya tuk bergabung, dari arah bawah lembah. Namun, dia tulikan telinganya agar tak mendengar panggilan itu. Dia kuatkan hatinya tuk menempa semangat dan jiwa yang mulai meragu. Beban di pundaknya tak juga berkurang beratnya, malah bertambah berat dengan harapan-harapan orang-orang yang berada di dekatnya.

Peluh mulai membasahi wajahnya yang kusam dan kotor. Hanya wajah lusuh itu yang menemaninya selama hidup….dalam menantang dinginnya angin gunung dan teriknya matahari. Tapi, dia tetap tengadah…mencari apa yang di carinya selama hidup…. Perjalanannya hampir mencapai pagi…saat fajar menjelang. Tubuhnya membatu..dengan mata yang lelah menatap ke depan.

Di sana….di puncak gunung kehidupan yang di daki, perlahan membayang suatu sosok tubuh penuh cahaya…penuh harapan… Lelaki itu tersenyum…dalam meyakini apa yang di carinya. Cahaya dari sosok tubuh itu menyilaukan, namun tidak menyakitkan mata. Kelembutan dan keharuman sosok tubuh itu, mampu memberi tenaga baru bagi si Lelaki, dalam meneruskan langkah kakinya yang berdarah, untuk tetap mendaki gunung itu.

Tiba-tiba, Sang Lelaki sejenak menghindar, dan berlari berlindung di bawah tumpukan batu keraguan. Entah dari mana, mendadak tubuhnya menggigil karena terpaan keputus asaan yang mendalam. “Benarkah dia ? Ataukah aku harus terus menyakiti hidupku dengan pencarian tanpa ujung ini ?” Begitu yang ada di dalam benak si lelaki, saat dia berhenti melangkah tuk menimbang hendak melangkah maju atau tidak. Lalu bagaimana dengan semua beban yang di bawanya ? Bagaimana dengan semua harapan yang membebaninya ? Apakah pantas tuk tetap di bawanya dalam menuai mimpi ?

Lelaki tersebut terduduk lemas….seraya mengangkat tangannya, berdo’a : “Yaa Tuhan…apakah ini jawab-Mu….ataukah ini azab-Mu ?” Saat Sang Lelaki bersembunyi di balik semua keraguannya, sosok tubuh penuh cahaya itu mendekat, membuat sang lelaki terlempar dalam suasana nyaman yang belum pernah di impikan sebelumnya.

Tangan lembut dari sosok tubuh penuh cahaya itu menggenggam telapak tangan Sang Lelaki, merangkulnya dengan kehangatan surgawi, dan mengajak tuk beranjak pergi. Sang lelaki tak bisa berkata apa-apa….tak bisa berbuat apa-apa…hanya mengikuti saja kemana sosok tubuh penuh cahaya itu melangkah…atau tepatnya melayang. Bahkan Sang Lelaki tak bisa merasakan lagi beban dan luka yang seumur hidupnya telah dia bawa….Yang ada hanya kesejukan, perasaan nyaman yang selalu dia impikan….dan jalan penuh cahaya yang dilaluinya bersama dengan sosok tubuh penuh cahaya itu…

Sosok tubuh penuh cahaya itu memiliki sayap….dan lingkaran putih di atas kepalanya. Sayap yang mengepak lembut…dan lingkaran putih di atas kepalanya mampu memancarkan jutaan warna cerah dari kehidupan. Dan Sang Lelaki hanya terpana…tak kuasa berkata apa…selain mengatur degup jantung yang makin rejana… Ini kah wujud mimpinya ? Ini kah akhir pencariannya ? Sang lelaki tak berani untuk memutuskan. Terlalu rumit untuk di anggap sederhana. Lanjut Baca »

Salam

Kami mencoba mulai mencurahkan hobby dijalur musik sejak tahun 2006 akhir…

Memulai dari lingkungan terdekat kami, di Warehouse menghibur teman-teman dengan alat musik seadanya dan terus mengepakan sayap ke HQ mengikuti setiap kegiatan musik yang diadakan hingga saat ini.

Awalnya kami memainkan lagu yang pada saat itu sedang hits namun seiring berjalannya waktu, kami mencoba tuk mengaransment sebuah lagu yang merupakan hasil karya kami sendiri.

Saat ini kami tengah mencoba untuk ikut meramaikan bursa musik yang ada di Indonesia saat ini. Aliran yang kami mainkan mulai dari yang berirama slow sampai ke yang cepat telah dicoba.

Semoga dengan segala jerih payah serta waktu yang telah kami berikan tuk berinovasi dan bereksperimen dalam mengembangkan musik dapat diterima di telinga para pendengar pecinta musik Indonesia.

Salam dari kami

yup… here we are try to say Hello… to the everybody
We try to make something better than yesterday what we do…

Nice meet U All

BarCodE

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.