Titik Terang…yang nggak pernah berpenghuni. Ada di setiap kita. Ada di setiap keringat, darah, dan airmata. Sebuah kontribusi samar akan sebuah keinginan. Mudah tuk terlupa, namun sukar tuk terjadi.
Saat langit alam biru menunggu salju, ilalangpun bersorak manja. Mencoba semaikan segala mega. Angin menari lucu dikupingku, mencoba bicara. Heyy?? Ngomong apa sih ?? Sumpah, aku nggak ngerti.
Tapi alam sedang tersenyum manis padaku…menarikku dalam kehampaan hati yang dalam. Fenomena biru telah meninggalkanku seperti sampah yang berserakan. Saat ini, titik terang adalah jawabannya.
Sukar dicerna, seperti menelan karet mentah bulat-bulat ke dalam perut yang kosong. Makin membakar sebuah keinginan untuk bisa meraja. Aku terdiam…aku terpaku dalam hening. Aku malu pada angin yang dari tadi terus meracau, sementara mulutku terkunci rapat. Semua pohon berpelukan mentertawakanku, sampai air mata mereka menggenangi akar-akar yang lapuk. Menebarkan bau busuk yang nggak akan mungkin di sukai oleh kucing. Tapi ini aku…dan aku sedang berdiri di sini.
Mata sang batu meradang lelah di hadapanku, seolah memintaku untuk tetap bermimpi. Kisaran daun bunga telah bertumbuk menjadi satu, dalam langkahnya menuju kematian. Aku meringis….menampilkan sebuah seringai jelek yang memuakkan. Sampai kapan, ya…hidup akan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk nggak karuan, bagai rumah-rumah gembel di kolong jembatan ?
Ohhh…lelahnya kaki ini….saat mencoba mencari celah untuk tak tersengat lebah. Kalau sudah begini, kemana titik terang itu tlah pergi ? Ke dalam hati, atau malah cuma jadi bayangan mimpi ?
Atau…sebenarnya Titik Terang itu adalah aku sendiri ???